Sahuuuur………… Tawuuuur…………

Budaya panggilan untuk sahur, setahu saya unik di Indonesia saja. Lebih unik lagi, tiap daerah memiliki kekhasan masing-masing. Jakarta dan sekitarnya memiliki keunikan yang menarik.
 
Jika anak-anak dan para pemudanya berkeliling memukul ember atau memukul apapun yang bisa berbunyi untuk membangunkan warga, maka tugas orang dewasa memanggil dari toa masjid, biasanya pengurus masjid.
 
Di sini, yang membuatnya unik adalah gaya memanggilnya. Tidak sekadar memberi tahu waktu sahur, namun juga memanggil satu per satu, bahkan lebih mirip program saling salam di radio. Di antara yang paling sering saya dengan diantaranya,
 
“Sahur…. Sahur….. Ayo Pak RT 02, sudah bangun belum. Kalau sudah cepet-cepet sahur, jangan lupa tengokin tetangganya sudah pada bangun atau belum.”
 
“Sahur…. Sahur….. Pak Haji Zaenal, sudah sahur apa belum. Kalau sudah yok siap-siap ke masjid jangan sampai tertidur lagi.”
 
Semua begitu, dengan variasinya masing-masing.
 
Keadaan Jakarta sedang genting, beruntung saya berada di selatannya Jakarta Selatan sehingga tidak terlalu terdampak. Saya hanya kepikiran bagaimana si bapak-bapak yang suka membangunkan sahur tadi pagi mengingat di beberapa titik bentrokan terjadi sejak sebelum waktu sahur.
 
Bisa jadi begini caranya membangunkan sahur,
 
“Sahur…. Sahur… Pak RT 02 sudah sahur apa belum. Kalau sudah jangan ke masjid dulu, di cek tetangganya sudah bangun apa belum. Kalau sudah jangan kasih pergi ikut-ikutan demo yak.”

Berbeda kalau masjid yang telah dipolitisasi,

“Sahur……..  Tawur……… Bang Muklis molotov udah disiapin belom!??!”

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *