Orang Jakarta Makan Apa?

Jika Jakarta lockdown total, dalam artian sama sekali tidak ada yang boleh masuk dari manapun. Dari Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, Bekasi, dan juga Laut Jawa, semua ditutup. Kira-kira, orang Jakarta akan makan apa?

Saya yang menjadi Jakartans selama hampir 4 tahun terakhir tentu kebingungan menjawab. Kayanya orang Jakarta sumber pangannya (beras, sayur, buah) berasal dari luar provinsi semua. Eh tapi ternyata tidak juga. Menurut BPS Jakarta, ternyata DKI Jakarta masih menghasilkan komoditas hortikultura. Bahkan masih memproduksi hampir 4000 Ton bayam di tahun 2018 lalu.

Lalu saya teringat tentang sawah-sawah terakhir di Jakarta yang pernah saya baca di Tirto.id. Jadi di Jakarta, sawah masih ada. Produksinya juga masih lumayan. Walaupun tentu, alih fungsi lahan menjadi ancaman. Salah seorang penggarapnya, Pak Kadir, tinggal menunggu duluan mana yang akan hilang, umurnya atau sawahnya.

“Jadi, kalau saya sekarang tinggal menunggu, pertanian duluan yang selesai atau saya duluan yang selesai,” ujar Kadir.

DKI Jakarta memang mempunyai Sawah Abadi. Lahan yang memang diperuntukkan untuk persawahan dan tidak bisa dialihfungsikan. Berlokasi di Cakung, Jakarta Timur, sawah tersebut luasnya hanya 5 hektar saja. DKI Jakarta sendiri mencatat punya 420 hektar sawah. Banyak yang dimiliki oleh perusahaan pengembang properti dan perusahaan lainnya, sehingga ketakukan akan alih fungsi lahan ini tentu sangat beralasan.

Kembali ke pertanyaan utama. Kalau benar-benar lockdown, orang Jakarta mau makan apa? Sepertinya masih ada sesuatu yang bisa dimakan sebelum orang Jakarta harus literally makan duit karena masih ada lahan pertanian di Jakarta, tapi ini jumlah yang sangat kecil, bahkat anda perlu menangis kalau data ini dibandingkan dengan Kuba.

Kuba, negara yatim yang ditinggal mati bapaknya, Uni Soviet, serta dimusuhi oleh tetangga kaya, Amerika Serikat, kini menjadi yang terdepan di dunia dalam urban agriculture. Di Havana, ibu kota negara Kuba, memiliki luasan lahan 35.000 hektar untuk urban agriculute. Ini belum termasuk sumber pangan yang diproduksi untuk kebutuhan sendiri seperti lahan keluarga. Tercatat setidaknya ada 89.000 kebun perumahan/keluarga, dan 5100 demplot lahan berukuran dibawah 800m2.

Sepertinya kita ga perlu bahas sampai ke produksi peternakan daging dan susu. Orang Jakarta bisa semakin sakit hati. Kok bisa-bisanya, negara kecil yang diblokade oleh AS bisa tampil menjadi negara mandiri dalam pangan.

Kepepet karena blokade mungkin menjadi satu alasan, namun tidak menjadi satu-satunya. Jauh sebelumnya, bahkan sebelum Uni Soviet yang merupakan patron utama ekonomi kuba saat itu runtuh, sudah ada kesadaran akankemandirian pangan, yang dimulai oleh…….

Bukan, bukan kementerian pertanian, tapi militer!

Raul Castro, menteri pertahanan Kuba pada 1987 yang kebetulan juga adiknya Fidel Castro, sudah menginstruksikan untuk dilakukan penelitian terkait penggunaan teknologi dalam pertanian yang akan diterapkan ke dalam pertanian urban di Kuba. Pada tahun itu juga Perusahaan Hortikulutura Angkatan Bersenjata Kuba, memproduksi sebuah infrastruktur pertanian bernama Organoponicos, yang didesain oleh seseorang yang dipanggil sebagai Insinyur Anita.

Sebuah konsep sederhana, yang sungguh-sungguh sederhana karena hanya berupa sebuah bedengan atau raised bed dengan media tanah yang dicampur material organik seperti kompos dengan ukuran 1x30m, yang kemudian menjadi cikal-bakal keberhasilan pertanian urban di Havana. Dimulai dari komplek militer di Havana, kemudian meluas di masyarakat sipil dan dilakukan dengan mandiri. Proses ini bisa berjalan tentu karena keterbukaan informasi dari pemerintah tentang budidaya tanaman yang baik, serta adanya kesadaran kolektif untuk menghasilkan produk-produk pangan segar secara mandiri.

Mungkinkah pemerintah Indonesia meniru langkah Kuba?

Sangat mungkin, bahkan mungkin sudah dimulai. Baru-baru ini Presiden Jokowi menunjuk Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk mengurusi lumbung pangan nasional.

Bukankah ini langkah jenius? Mungkin Pak Prabowo bisa menjadi Raul Castro-nya Indonesia, yang akan menginisiasi langkah awal menuju ketahanan pangan di Indonesia seperti yang dilakukan Raul Castro di Kuba.

Oh sayangnya itu hampir mustahil terjadi. Alasan mendasarnya karena model yang dikembangkan jauh berbeda. Raul Castro dengan Armed Forces Horticultural Enterprise, sebatas menjadi inisiator. Pelaksanaan pertanian urban di Havana pada akhirnya kini tetap sebagian besar dikelola mandiri dan sipil, bukan militer, juga bukan oleh korporat. Sedangkan yang ingin dikembangkan di Indonesia adalah food estate, perusahaan pangan. Yang akan memegang kendali adalah perusahaan-perusahaan besar, bisa jadi BUMN atau juga perusahaan asing dengan model kerjasama.

Artinya, dengan model Food Estate ujung-ujungnya petani ya cuman jadi karyawan perusahaan saja. Syukur-syukur gajinya bisa setara pegawai bank, tapi ya kok kayanya juga mustahil. Apalagi mindset pangan harus murah, yang sayangnya untuk merealisasikannya adalah dengan menekan penghasilan petani, alih-alih menekan negara agar mau memberi subsidi.

Kalau dikaitkan lagi dengan pertanyaan utama tentang orang Jakarta makan apa kalau lockdown, di model food estate ini ya orang Jakarta akan berujung makan sesama orang Jakarta. Karena tujuannya bukan membangkitkan kesadaran akan pangan sehat dan mandiri, tapi sebatas memenuhi perut babi buta yang kelaparan saja, meskipun itu dengan kotoran babi lainnya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *