Mempelajari Kembali Culture Jamming di 2019

Culture Jamming adalah sebuah konsep teori dalam ilmu tentang media yang sangat menarik. Konsep itu juga yang saya gunakan dalam skripsi saya untuk membahas media satire Posronda.net di 2015 lalu. Saya juga telah mengulas sedikit di artikel blog saya ini.

Keisengan saya untuk mencari artikel tersebut membawa saya ke sebuah fakta menarik, ternyata tulisan saya banyak di-copas adik-adik mahasiswa untuk tugas kuliahnya 😀

Hasil pencarian Google dengan kata kunci “culture jamming salisil” di halaman pertama semuanya adalah makalah tugas-tugas mahasiswa, kecuali tulisan blog saya sendiri.

Yang lebih disayangkan lagi adalah, kok ya copas totalitas tanpa batas. Meskipun menyantumkan link ke tulisan asli, tulisan sepanjang itu diparafrase aja sudah ikhtiar yang paling lemah lho adik-adikku mahasiswa tersheyeng.

So what’s new in 2019?

Cukup membahas adik-adik mahasiswa. Sekarang saya ingin membahas niatan awal saya mencari lagi artikel lama tentang culture jamming itu.

Budaya meme saat ini sudah mendunia, hingga kepelosok kampung dan sudut-sudut grup WA keluarga. Banyak fenomena yang sebenarnya secara teknis masuk ke dalam culture jamming.

Misal meme plesetan. Kemarin viral “KKN Desa Penari.” Banyak orang yang iseng dan kreatif membuat poster film KKN Desa Penari dengan menduplikasi poster film horor Hollywood yang terkenal.

foto: Instagram/@photoshop.shitposter

Lalu ramai juga iklan di Billboard yang isinya nyleneh seperti di bawah ini. Yang kemudian ditiru tekniknya oleh banyak brand dan perusahaan lain.

https://mediaformasi.com/2018/06/viral-billboard-ini-akan-buat-desainer-grafis-ngilu-tetapi-keren-dan-unik

Belum lagi kalau kalian pengikut akun-akun shitposting di media sosial. Contoh serupa akan banyak sekali ditemui.

Secara teknis, semua contoh yang saya masukkan di atas, menurut saya, masuk ke dalam kategori culture jamming. Mengapa?

Culture jamming itu secara teknis terdiri dari tiga hal, produk budaya media, pemlesetan, dan pesan. Jika hanya tiga hal tersebut, semuanya ada di contoh yang saya ambil, namun ada satu yang harus diperhatikan secara lebih detil, pesan.

Tujuan utama dari culture jamming adalah detournment. Artinya, ketika seseorang melihat atau membaca objek culture jamming, mereka akan memikirkan ulang objek asli yang di-jamming. Lebih dalam lagi, pesan yang disampaikan adalah, ada yang salah dari si objek asli yang di-jamming.

https://keepo.me/humor/miris-dan-ngenes-liat-kelakuan-kpi-meme-mengolok-sensor-tv-indonesia-pun-jadi-viral/

Meme di atas adalah contoh yang paling tepat dari culture jamming. KPI sedang ramai karena sensor yang berlebih (walaupun sebenarnya sensor dilakukan atas inisiatif TV). Orang ini melawannya dengan memlesetkan bentuk breaking news yang biasa digunakan TV, yang menjadi media utama yang diawasi KPI. Meme ini adalah culture jamming media TV atas sensor KPI.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, hal seperti ini akan sangat mudah kalian temui di akun-akun shitposting.

Why is it important?

Pertanyaan berikutnya adalah, kenapa harus ribet mengidentifikasi culture jamming? Tanpa itupun kita sudah tahu tujuan plesetan media seperti itu adalah untuk mengolok si media dan isinya.

Bagi saya, culture jamming ini penting sebagai sebuah taktik gerilya dalam perjuangan nilai tertentu. Kalau kamu cukup memperhatikan media dan politik, tentu akrab dengan pasal karet di UU ITE yang sering digunakan untuk membungkam orang-orang yang melakukan kritik.

Taktik culture jamming menurut saya bisa menjadi cara yang sangat ampuh untuk kucing-kucingan dengan UU ITE. Dengan taktik ini, kita harus kreatif memanfaat budaya media itu untuk mengkritik si media itu sendiri. Ini bisa dikembangkan untuk mengkritik negara dengan budaya media yang diproduksi oleh negara sendiri.

Artinya, olok-olok dilakukan dengan senjata yang dibuat oleh objek culture jamming. Meskipun mungkin akan ada orang-orang yang tidak langsung ngeh dengan pesan yang ingin disampaikan, sebenarnya itu adalah keberhasilan culture jamming yang memang dilakukan dengan metode suberversif.

Kedepannya, saya yakin taktik gerilya komunikasi ini akan semakin banyak digunakan. Terutama melihat tren di Indonesia yang semakin lama semakin paranoid dengan orang kritis, dan juga semakin banyak orang-orang bigot anti kritik. Hal seperti ini tidak sekadar menjadi lucu-lucuan saja, namun bisa jadi membawa pesan perubahan yang jauh lebih besar.

Itu juga yang saat ini sedang saya kerjakan di Pandir.id, sebuah website berita satire yang konsepnya mirip dengan Posronda.net yang sangat sayang sekali sudah tidak update lagi sejak 2017.

Satire terutama politik, masih sangat kurang di Indonesia karena memang penggunaannya rawan membuat orang-orang penting tersinggung lalu menggunakan kartu sapu jagad yaitu UU ITE.

Pandir.id menjadi sarana saya agar orang bisa terbiasa dengan satire politik dan kemudian lebih terbuka, terutama terkait junjungan-junjungan politik yang dianggap seolah-olah orang suci yang harus dibela sampai mati.

Suka mengikuti satire politik? kunjungi Pandir.id. Tertarik untuk menulis satire politik? Ayo bergabung dengan saya.

Facebook Comments