Tikus, dan Perangnya dengan Ibu

Sebersih apapun sebuah rumah, saya yakin pasti tikus selalu menemukan tempatnya untuk bersarang.  Begitu pula rumah saya yang kebersihannya selalu terjaga oleh ibu saya yang hebat itu.  Maaf kalau anakmu ini teramat jarang membantu.

mouse-154786_960_720
https://pixabay.com/static/uploads/photo/2013/07/12/19/27/mouse-154786_960_720.png

Ibu saya mempunyai cara tersendiri dalam membasmi tikus, ini adalah hasil dari proses pertarungan yang tiada akhir.  Dulu ibu masih menggunakan cara yang umum, yaitu dengan racun.  Pada masa awal cara ini sangat ampuh, sayang tikus terlampau sering mati di tempat yang tak terjangkau dan baunya sangat tajam menusuk hidung.  Mungkin tikus termasuk hewan dengan tingkat intelegensia yang cukup tinggi, terbukti mereka paham dan kemudian enggan memakan umpan yang sudah diberi racun.

Perlawanan ibu dengan tikus tidak berhenti, kini cara yang sangat kuno digunakan.  Sebuah teknik yang mungkin diwariskan oleh leluhur manusia masa berburu dan meramu melalui proses evolusi ribuan tahun.  Ibu kini melakukan perlawanan radikal.  Setiap ada tikus segala alat yang bisa digunakan untuk memukul hingga mati si tikus akan Ibu gunakan.  Teknik ini meski melelahkan memang menghasilkan hasil nyata yaitu seekor tikus mati berlumur darah di tangan ibu saya.

Lagi-lagi tikus adalah hewan yang bisa belajar.  Saya bahkan tidak pernah tahu tikus mempunyai kemampuan ini.  Suatu ketika Ibu berhasil menangkap tikus dalam sebuah gombal (kain lap dari pakaian bekas).  Dengan tenaga penuh Ibu memukul si tikus yang ada di dalam gombal sampai tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terlihat.  Setelah yakin tikus sudah mati, Ibu membuka gombal tersebut.  Kaget bukan kepalang Ibu saya ketika si tikus ternyata masih hidup dan langsung mengambil langkah seribu, entah pergi ke mana.

Pada masa penuh keputusasaan ini Ibu memilih untuk melawan tikus dengan cara yang sangat tidak konfrontatif.  Ibu membiarkan tikus berkeliaran, sampai pada titik di mana tikus itu bersembunyi di lemari kecil di bawa kompor, tempat menaruh gas.  Ketika ada tikus lari masuk ke dalam tempat itu, ibu segera menutup lemari itu lalu di tahan dengan kompor minyak dan panci berisi air.  Ibu berharap tikus mati perlahan karena kelaparan. Kejam? Ah, si tikus saja yang tidak pernah kapok.

Cara ini juga kadang membuahkan hasil meski harus menunggu beberapa hari hingga si tikus mati kelaparan.  Selain itu, tidak jarang ibu lupa ketika mengangkat panci bahwa panci itu dia gunakan untuk menahan pintu lemari.  Jadinya tikus pun memanfaatkan kesempatan yang sangat kecil itu untuk melarikan diri.

Lalu saya ngapain di tengah perang panjang antara Ibu saya dan tikus itu? Ya saya cuma nonton sambil kadang ikut membantu meskipun tidak begitu membantu.  Suatu ketika pernah  ada tikus masuk ke kamar saya yang tertutup pintunya. Saya dengan amat baik hati membukakan pintu agar si tikus biar bisa keluar. Remeh sekali memang sorang anak, padahal laki-laki, urusan tikus saja tetap kalah dengan seorang ibu.