Selamat Jalan Kapten!

Once you are a gooner, you’ll always be!

Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kepergian penuh emosi sang kapten, Mikel Arteta. Pertandingan hari minggu kemarin adalah pertandingan terakhir Arteta sebagai pemain bola. Sebuah laga yang emosional bagi sang kapten sejak pertama kali masuk di 15 menit akhir menggantikan Jack Wilshere.

Tentu sangat wajar, bisa dikatakan puncak karir Arteta memang berada dipenghujung usianya sebagai pemain dan itu terjadi di klub ini, Arsenal. Maka mari sejenak melihat rekam jejak sang kapten hingga kesuksesannya menjadi kapten ketika memenangkan Piala FA musim 2013-2014. (Sebenarnya hanya wakil kapten namun Vermaelen yang performanya sedang turun dicadangkan di laga tersebut).

aye-aye captain!

Arteta berasal dari daerah Basque, dia adalah teman main bola Xabi Alonso sejak kecil. Keduanya sama-sama punya impian untuk bergabung dengan Real Sociedad. Bakat Arteta muda terdeteksi oleh raksasa Catalan dan Arteta pun direkrut untuk mengisi skuad tim C. Sempat tampil apik di Barcelona B sayang Arteta tak bisa menembus tim utama. Semusim dipinjamkan ke PSG lalu ke akhirnya Arteta berlabuh ke Rangers. Xabi Alonso saat itu sudah menjadi pemain penting di Real Sociedad, Arteta pun didatangkan ke Sociedad untuk tandem dengan sahabatnya itu. Sayang pinangan Liverpool tak bisa ditolak Alonso. Sedih sekali jadi Arteta, sahabatnya sendiri php. Di Sociedad pun Arteta tak bertahan lama, cukup semusim saja lalu dia menerima lamaran David Moyes untuk bergabung dengan Everton.

Funfact: David Moyes yang membeli Arteta dari Real Sociedad kini menangani klub tersebut setelah gagal bersama MU. Hmmm, mungkin Moyes punya kenalan orang dalem nih

Kecemerlangan Arteta sebagai gelandang kreatif sangat terlihat di Everton. Prestasi terbaiknya adalah mampu mencapai posisi 4 dan masuk kualifikasi Liga Champion, sayang Everton kandas di laga playoff. Arteta dipercaya menjadi kapten dan memperoleh nomor keramat favorit Kapten Tsubasa, 10! Prestasi player of the season Everton didapatkan Arteta berturut-turut. Hingga akhirnya di tahun 2011 sebuah tawaran menarik dari Arsenal datang.

Saat itu usia Arteta sudah 29 tahun, tawaran Arsenal baginya adalah kesempatan emas. Pemain yang kualitasnya diakui bahkan secara statistikpun termasuk terbaik, di usia tersebut dan belum merasakan gelar bergengsi, tentu tawaran dari Arsenal sungguh irressitable.

Transfer fee sebesar 10 juta pounds sudah cukup untuk memboyong sang calon kapten arsenal ini. Kedatangannya cukup penting mengingat Arsenal baru saja ditinggal Samir Nasri ke Manchester City. Kaos nomor delapan pun menjadi milik Arteta. Musim pertamanya memang tak langsung berbuah Trophy, musim 2011-2012 malah bisa dikatakan sebagai musim yang buruk bagi Arsenal. Namun tetap bisa mengamankan tiket liga champion, begitulah Wenger, Liga Champion tetap bisa diikuti, walaupun cukup sebagai penggembira saja, sad truth.

Akhir musim bahkan sang kapten, RVP, pergi untuk bergabung dengan salah satu rival, MUnyuk. Kan kunyuk sekali, pemain yang sering masuk ruang operasi, giliran sehat, main bagus, top skorer musim itu, langsung pindah ke rival, sakit!

Ibarat kapal Arsenal ini semakin oleng, bocor di mana-mana. Kepergian RVP digantikan oleh dua striker, Podolski dan Giroud. Dengan pemain depan yang tidak setrengginas RVP musim 2012-2013 kita memang kehilangan sosok juru gedor di depan. Di sinilah peran besar Arteta yang bertransisi dari gelandang kreatif menjadi lebih bertahan. Hal ini juga karena masuknya Cazorla yang menunjukkan kelasnya sebagai The Little Magician. Sayang musim ini masih saja Arsenal berpuasa gelar.

Musim 2012-2013 posisi Arteta sebagai jangkar semakin vital. Kedisiplinannya memberi peluang Ramsey untuk banyak ikut membantu penyerangan. Hasilnya, pemain yang sebelumnya dijuluki pangeran kegelapan ini menjadi penyelamat Arsenal di berbagai laga. Yang paling diingat tentu kemenangan heroik di final Piala FA ketika Arsenal mengalahkan Hull City 3-2 setelah sempat tertinggal terlebih dahulu 2-0.

Arteta kehilangan satu gigi saat melawan Hull di musim 2013-2014

Meski tertutupi oleh kecemerlangan permainan Ramsey, Arteta yang mengemban ban kapten tetap tak bisa dinafikan perannya. Perannya menjaga kedalaman dan mendistribusikan bola sangat tidak bisa dianggap remeh.

Di akhir karirnya sayang Arteta lebih banyak mengalami cidera. Namun sosok pemain yang ga neko-neko, dengan rambut yang sleek ala lego itu sangat patut diacungi jempol. Bergabung di usia yang sudah tidak muda, namun masih bisa menyumbangkan dua gelar Piala FA berturut-turut adalah prestasi yang sangat membanggakan. Tak heran kepergiannya terasa sangat emosional setelah apa saja yang dia dapatkan di klub ini.

Lego hair of Arteta

Maka setelah 5 tahun masa pengabdian sang kapten, hormat setinggi-tinggi saya tujukan kepadanya. Tentu akan sangat senang sekali bagi Arsenal bisa bekerjasama lagi dengan Arteta di kemudian hari sebagai manajer atau setidaknya assisten pelatih terlebih dahulu. Kabarnya dia mendapat tawaran untuk bergabung dengan tim pelatih Pep Guardiola di Manchester City, mungkin kesempatan berharga untuk sebuah pengalaman, namun saya masih sangat berharap bahwa Arteta akan kembali ke Arsenal suatu saat nanti.

Sekali lagi, hormat untukmu kapten, dan selamat jalan!

I can’t resist the emotion 🙁

Thanks for the memories, let’s make some more in the future!