Sehat Tentrem, Karena Merokok Adalah Melawan

Sebat dulu lah, biar tentrem.

Siapa sangka Mohammad Sobary atau yang lebih akrab disapa Kang Sobary, budayawan sekaligus mantan Kepala Kantor Berita Antara, memutuskan untuk menjadi perokok setelah usianya di kepala lima. Agaknya itu sedikit menjadi role model bagi saya untuk meniti karir menjadi perokok aktif di usia 23 tahun.
Singkat ceritanya medio Agustus 2016 lalu, isyu tentang kenaikan cukai tembakau sedang panas-panasnya. Sebagai cowok Klaten yang paham betul daerah saya merupakan salah satu daerah penghasil tembakau. Sedikit banyak saya tahu bagaimana kehidupan orang-orang yang hidup dari tembakau, apalagi saya berdedikasi untuk nyalon Bupati Klaten 2047 tentu harus lebih memahami dinamika yang ada di grassroot. Wacana menaikan cukai tembakau, dengan alasan untuk menekan angka perokok, sungguh menyakitkan.

Dari situ saya membaca beberapa literatur tentang rokok, terutama kretek sebagai warisan kebudayaan asli Indonesia. Mulai dari Mereka Yang Melampaui Waktu, Kretek: Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa Indonesia, lalu In Defense of Smokers. Dari ketiga bukut tersebut saya menemukan sebuah dinamika politik tembakau yang cukup rumit. Namun dari segala kerumitan itu, ada sebuah keniscayaan yang begitu terserap dipikiran saya, merokok tidaklah selalu tidak sehat.  Mungkin anda berpikir saya sok idealis mau jadi perokok saja harus punya landasan referensi, begitu pula beberapa kolega saya mengomentari hal serupa. Jawaban saya, “bodo amat!” Emang skripsi doang yang perlu daftar pustaka?

Sejak saat itulah saya memproklamirkan diri saya sendiri sebagai perokok, dan kegiatan merokok sebagai bentuk dukungan dan perlawanan, dan pilihan saya adalah rokok dengan nama yang sangat absurd bagi orang awam, “Sehat Tentrem.” Orang awam pasti akan berpikir, bagaimana mungkin rokok bikin sehat dan bikin tentrem?

Sebelum saya memutuskan untuk merokok, saya sudah tahu keberadaan rokok produksi sebuah pesantren di Jombang ini. Selain itu saya juga membaca tentang Divine Kretek, sebuah penemuan di bidang kesehatan yang luar biasa dari Indonesia ole Dr. Greta Zahar. Namun karena alasan kemudahan akses, saya lebih memilih Sehat Tentrem.

Sehat Tentrem (ST) memproduksi beberapa jenis rokok. Di antara yang pernah saya coba adalah varian Raos Paling Eco (RPE), 101, dan Merah Putih (MP). Tidak hanya nama “Sehat Tentrem” saja yang menunjukkan sebuah perlawanan terhadap hegemoni rokok, namun keseluruhan rokok dari semua varian ST ini adalah sebuah perlawanan itu sendiri. Mari kita ulas satu per satu.

Sehat Tentrem Raos Paling Eco
Varian pertama, dan yang paling populer, adalah adalah RPE. Kretek dengan ukuran sangat panjang, berbungkus kertas bermotif batik. Model kemasannya mirip dengan Dji Sam Soe. Dari segi rasa, di bandingkan varian lain yang pernah saya coba, memang RPE ini yang paling mantab. Seduhlah kopi hitam panas, nyalakan sebatang RPE, lalu ambil sebuah buku (atau ambil gawainya dan baca blog saya), dunia serasa berhenti berputar untuk sementara waktu. Segala keresahan seperti minggir dari kesadaran, termasuk keresahan akan camer yang tak kunjung menerima kenyataan bahwa anak gadisnya suka pada anda. Harga sebungkus RPE ini adalah Rp. 35.000 isi 12 batang.

Tampak depan dan belakang ST RPE (dok. pribadi)


Sehat Tentrem 101

Varian kedua adalah 101. Saya belum sempat mendalami apa maksud angka ini karena jenis ini kadung tidak diproduksi lagi dan saya baru sempat nyoba satu bungkus. Dari segi kemasan rokok ini mirip dengan Dji Sam Soe Super Premium. Karton tebal nan mewah di luar dan di dalamnya tiap batang kretek terbungkus rapi secara tersendiri. Dari segi rasa seingat saya sangat mirip dengan RPE. Harganya juga seingat saya sama, hanya saja 101 lebih pendek dari RPE. Wajar mengingat buungkusnya yang lebih premium.


Sehat Tentrem Merah Putih
Varian berikutnya adalah Merah Putih. Sesuai namanya, bungkusnya memang merah putih. Sekilas mirip dengan Marlboro mamun terbungkus dalam kertas yang sama dengan RPE. Saya menilai MP ini adalah turunan dari RPE. Baik dari segi ukuran yang lebih pendek, rasa yang lebih ringan, dan harga yang lebih murah. Untuk satu bungkus ST MP isi 12 batang ini anda harus merogoh kocek sebesar Rp. 25.000.

Rokok ST mahal-mahal ya? Belum lagi varian Assyifa yang belum pernah saya coba karena harganya yang lebih mahal dari honor menulis satu artikel di Mojok. Sekilas memang mahal, namun yang saya sadari kemudian adalah rokok ST ini sangat lama habisnya. Saya pernah membandingkan dengan seorang teman yang merokok Kretek Mild. Hasilnya, teman saya sudah menghabiskan tiga batang saya baru mau habis satu batang RPE. Secara intensitas padahal saya lebih seperti kereta dari pada teman saya ketika merokok. Jadi satu bungkus ST bisa di samakan dengan harga dua bungkus Mild bahkan lebih, dan dengan rasa yang jauh lebih mantab. Kalau masih terasa mahal untuk mengeluarkan uang lebih dari 20rb untuk sebungkus rokok, ada varian Raos Ngeten Mawon yang merupakan varian termurah.

Yang paling unik adalah kemasan dari ST. Jika biasanya anda menemukan kategori kretek seperti Sigaret Kretek Tangan, lalu Sigaret Kretek Mesin, di ST anda akan menemukan kategori lain yaitu “Rokok Obat.” Para ekstrimis anti-rokok bisa jadi akan pingsan mengetahui ini, bagaimana mungkin sebuah barang yang mereka kampanyekan sudah seperti racun sekelas sianida bisa menjadi obat? Ora mashoook boskuuh.

Bukan itu saja, jika anda dulu menemukan tulisan “merokok dapat menyebabkan kanker, blah..blah..blah…” yang kini sudah diganti dengan gambar-gambar yang biasanya hanya bisa ditemukan di subforum Disturbing Picture di kaskus, tenang saja, di ST anda tidak akan menemukannya. Yang akan anda temukan adalah sebuah peringatan yang sangat menggelitik, “Perhatian, Rokok Ini Dapat Menimbulkan Kesehatan.” Melihat tulisan ini mungkin Tere Liye yang selalu ada di garda terdepan dalam kampanye anti rokok bisa kaget kayang di tempat.

Masih ada lagi tulisan khas yang melekat di semua produk ST. Di bawah nama “Sehat Tentrem” anda akan selalu menemukan tulisan “Untuk Indonesia Raya.” Bila dibaca dalam satu rangkaian, maka bisa diartikan sebagai doa yang sangat khidmat bagi seluruh bangsa Indonesia agar selalu sehat dan tentram. Sungguh fraksi anti-rokok seperti dipermainkan begitu saja, layaknya Messi yang menggocek bek lawan dengan begitu asyiknya.

Terakhir, kalau ST masih belum bisa dianggap rebel, semua rokok ST kini sudah bercukai. Ya, awalnya ST adalah rokok yang sangat indie. Kini semua varian sudah bercukai, namun tidak lantas membuat mereka seperti pemusik pop yang memilih mapan dengan major label. Jika anda membeli rokok ST sekarang, anda akan mendapati bungkus rokok yang sangat normal seperti adanya peringatan bahaya merokok termasuk gambar-gambarnya. Lalu bukalah bungkusnya, anda akan menemukan bungkus asli dari rokok ST seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya.

Jadi ST ini mengikuti regulasi cukai pemerintah, namun tidak melepaskan jati dirinya sebagai rokok yang melawan hegemoni terhadap industri rokok. Sebuah gerakan underground yang sangat rebelious! Seharusnya ST bisa menjadi rokok official konser-konser band underground yang terkadang susah membedakan suara vokalisnya dengan suara gitar yang colokannya kendor.

Dengan ini bagi saya komplit sudah, merokok adalah melawan dan merokok ST adalah perlawanan yang nyata!