Satu Dekade Gempa Jogja-Klaten

Cerita Tentang Hari Pertama

Tak terasa sekarang taggal 27 Mei. Tanggal dimana sepuluh tahun yang lalu terjadi sebuah kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan. Kali ini saya akan mencoba menarasikan ulang sebuah kejadian yanng terjadi tepat sepuluh tahun yan lalu.

Sabtu, 27 Mei 2006

5:30 WIB

Saat itu saya masih kelas 1 SMP, waktu itu kalau tidak salah sedang musim libur untuk try out ujian siswa kelas 3. Tapi sabtu itu jadwal saya untuk masuk sekolah karena try out sudah selesai. Bapak dan ibuk saya mengira saya masih libur, karena adik saya yang baru kelas 3 SD itu juga sedang libur. Akhirnya saya gedandapan (terburu-buru) untuk segera shubuh, sarapan lau mandi.

5:55 WIB

Saya masuk kamar mandi. Di saat yang bersamaan, bapak sedang sarapan pagi, ibuk sedang menyapu halaman rumah, dan adik saya yang libur sedang ngegame di depan TV karena libur. (Dulu kami hanya bisa main game saat sekolah libur).

5:59 WIB

Belum lama saya mandi, tiba-tiba suara gemuruh yang sangat kencang terdengar, dibarengi dengan rumah yang bergoyang. Semain lama semakin, di luar kamar mandi saya mendengar bapak meneriaki adik saya untuk keluar rumah. Di luar rumah saya mendengar orang berterak lindu! (gempa) berulang-ulang. Semua kebisingan bercampur baur, suara bangunan runtuh, orang berteriak, beristigfar. Hal ini terjadi berlangsung hampir dua menit. Dua menit yang amat mengerikan.

Seperti yang saya ceritakan, saat gempa saya sedang mandi. Tentu tanpa sehelai kain pun tersampirkan di badan saya. Di dalam kamar mandi saya melihat bak mandi berisi air bergoyang begitu keras hingga air di bak terombang-ambing seperti ombak yang sangat keras. Saya berdiri, berpegang erat di bibir bak agar tak ikut terpental oleh gempa yang sangat keras. Di saat sangat mengerikan itu, satu-satunya hal yang terfikirkan oleh saya adalah Tuhan. Maka di dalam kamar mandi itu, saya berteriak Allahuakbar! Berulang kali hingga gempa berhenti.

5:05 WIB

Saya keluar rumah hanya menggunakan sehelai handuk, tak peduli, saya ingin tahu apa yag telah terjadi. Keluar dari kamar mandi, saya melihat lemari kayu jati besar pemisah rang tamu saya ambruk. Mengetahui itu ibu saya bersyukur saya bertahan di kamar mandi, bisa jadi ketika saya keluar saya malah tertimpa lemari. Ya, dalam hal segawat apapun selalu saja ada hal yang membuat kita patut bersyukur kepada Tuhan.

Di luar rumah saya melihat bapak, ibuk, dan adik saya selamat tana luka apapun. Paklik dan bulik saya yang tinggal bersebelahan juga selamat. Namun saya amat terkejut melihat beberapa bangunan disekitar saya rata dengan tanah. Melihat saya baik-bak saja ibuk memnyuruh saya menyelesaikan mandi dan ganti baju.

5:30 WIB

Saya sedkit membantu mengankati puing-puing berserakan di rumah tetangga dekat. Naas seorag nenek tua yang tinggal di dalamnya tertimbun beserta anak dan cucunya. Bersama dengan tetangga lain kami mencoba meyelamatkan mereka, yang pertama berhasil di selamatkan adalah sang cucu yang dulu sekiranya masihberusia 2-3 tahun. Si cucu selamat tanpa terluka dalam dekapan ibunya yang tergolek lemas. Sang ibu yang berhasil diselamatkan kemudian menderita luka yang serius, ada tulang yang diperkirakan patah. Keduanya dibaringkan sejenak di latar rumah saya.

Sang nenek masih tertimbun puing rumahnya. Terdengar jelas sang nenek mengerang kesakitan dari bawah tumpukan genteng dan batu bata yang berserakan. Ketika berhasil diangkat nampak luka dikepalanya sangat parah, ketika dibaringkan di depan rumah dan diberi bantal nampak bekas darah yang sangat banyak. Ketiganya kemudian di bawa ke rumah sakit, saya lupa saat itu siapa dan bagaimana membawa mereka ke rumah sakit.

07:00 WIB

Kami baru ingat nenek saya, yang tinggal satu kampung, di rumah sendirian karena kakek sedang di rumah bulik saya di Bantul dan bude yang tinggal bersamanya jualan di pasar. Kami sekeluaga sangat khawatir saat itu, beruntung ada kabar bahwa nenek selamat meski sedikit menderita luka di kepala. Saya pun bersama saudar saya mengecek keadaan rumah simbah. Dan ternyata hancur lebur rata dengan tanah. Saya membayangkan bagaimana nenek saat itu bisa selamat, tentu sebuah kehendak-Nya yang mentakdirkan gempa ini terjadi.

Beginilah gambaran yang terjadi di sekitar saya saat itu. -27mei.blogspot.id

 

Baru beberapa lama kemudian Nenek bercerita bahwa saat gempa terjadi dia sebenarnya mau keluar. Karena gempa yang sangat kuat dia terpelanting jatuh tepat sebelum mencapai pintu keluar. Di saat jatuh itu, pintu roboh namun tidak menimpaya melainkan malah melndunginya karena pintu tertahan hingga menjadi pelindung bagi nenek dari reruntuhan bangunan.

Saya lalu meajutkan mengililingi kampung dan kersakan yang terjadi sangat parah.

07:30 WIB

Kami mendengar berbagai isu yang mengerikan, bahkan ada yang bilang terjadi tsunami dan air sudah mendekat. Kalau di pikir-pikir, laut terdekat itu berada di arah selatan, itupun terhalangi barisan bukit di Gunung Kidul, namun orang-orang dari arah utara berbondong-bondong mengungsi ke daerah bukit di selatan. Ya di masa seperti itu akal sehat memang sangat langka.

Kala itu beberapa warga kampung berkumpul di lapangan depan bekas bangunan SD yang tak terpakai yang berada pinggiran kampung, dekat dengan rumah saya. Sambil berkumpul para orang tua berbincang tentang apa yang harus dilakukan. Saat itu saya bersama ibuk saya, bapak dan adik bersama nenek niatnya membawa motor ke arah utara menuju rumah paklik saya yang lain. Untuk mengecek keadaan dan mau mengecas hp karena saat itu listrik mati total.

08:00 WIB

Semakin banyak orang berduyun-duyun dari arah utara hendak menuju gunung kidul. Isu yang kami dengar bahkan sangat simpang siur, ada yang bilang air setinggi 5 meter dari arah utara semakin mendekat. Orang berjalan, lari, naik motor, bawa mobil semua tergesa-gesa menuju satu tujuan. Yaitu arah selatan ke perbukitan.

Kami pun memutuskan untuk ikut mengungsi, karena meliha ratusan bahkan ribuan orang hendak mengungsi akhirnya kami ikut terpengaruh. Saat itu saya berdua dengan ibu memutuskan untuk jalan kaki ke arah selatan. Sempat ingin hendak menumpang mobil yang lewat namun ternyata ban mobil tersebut bocor.

Beruntung bagi saya dan ibuk saya adalah baru sekira 200 meter berjalan, datang seorang militer, kemungkinan dari koramil, menginstruksika untuk kembali ke rumah masing-masing karena Tsunami itu hanya isu belaka. Yang dikhawatirkan adalah rumah atau reruntuhan rumah yang ditinggal menjadi sasaran empuk para penjarah. Saya pun bersama ibu pulang, selang beberapa lama  bapak bersama nenek dan adik sampai di rumah. Katanya mereka sudah hampir mencapai bukit sampai akhirnya ada himbauan untuk kembali ke rumah.

10:00 WIB

Sebagian besar warga kampung sudah kembali, namun tidak ada yang berani berlama-lama di ruma. Saya ingat waktu itu semua alat makan dan memasak di keluarkan. Kami beraktifitas di luar rumah. Keluarga saya dan paklik, beserta beberapa tetangga dekat berbagi bahan makana siang itu karena banyak yang belum sempat ke pasar untuk berbelanja

12:00 WIB

Tengah hari, saat itu adalah musim kemarau yang cukup kering di tambah lagi Gunung Merapi yang juga sedang bergejolak semakin menambah terik udara musim itu. Namun ada yang aneh, entah kenapa sejak terjadinya gempa matahari serasa engga nampa, mendung menggantung dalam suasana yang terasa teramat janggal. Itu yang saya rasakan.  Kata beberapa orang, hal ini terjadi karena banyak orang yang setelah gempa bertobat dan membuang pegangan atau pesugihanya.

Karena tidak ada yang berani tidur di dalam, kami menyiapkan tempat di latar rumah. Sedikit di tutup dengan banner-banner produk rokok karena paklik saya punya warung. Hal ini untuk menahan cipratan air jika nanti hujan. Sore hari banyak saudar keluarga datang dari jauh untuk memastikan keselamatan keluarganya. Ada yang dari Jakarta, Surabaya, Madiun, dan kota lainnya rela membayar tiket dengan mahal demi bisa datang langsung.

Beruntung bantuan cukup cepat datang ke kampung saya, saya sangat ingat bantuan yang pertama kami dapat adalah beberap kardus mie instan. Ini cukup membantu dapur-dapur umum yang di bentuk di kampung kami.

19:00 WIB

Gelap tiba, kami hanya berbekal lampu emergency beberapa lilin dan lampu minyak. Dan yang diperkirakan pun benar-bena terjadi. Hujan! Hujan yang terjadi teramat deras, sangat deras, bahkan kami heran kenapa bertepatan sekali dengan gempa yang terjadi. Di latar rumah saya tidur brsama-sama sekitar 10 orang, keluarga saya dan paklik, lalu saudara yang datang dari luar kota. Dan kesunyian dalam berisik air hujan pun menyelimuti tidur penuh kegelisahan dan kecemasan kami.

Di malam hari pertama terjadinya gempa, dalam gelap gulitanya, hujan deras menghujam bumi. Seakan bumi ikut menangisi kepergian orang-orang yang kami cintai.


Peristiwa ini sangat membekas di hati saya, bakan bisa dikatkan ada semacam trauma yang saya alami. Yang paling terasa adalah saya amat sensitif dengan suara gemuruh, seperti suara mesin penggiling padi yang baru dinyalakan.  Suara seperti itu sangat mirip dengan gemuruh gempa yang saya alami dulu. Lalu juga saya sensitif dengan gempa itu sendiri, beberapa kali gempa kecil terjadi, banyak orang yang tidak merasakan namun saya merasakannya.

Terkadng saya masih suka “mak tratap” ketika mendengar suara gemuruh atau merasakan tempat saya duduk atau tidur bergoyang seperti gempa.

Sebagai penutup, marilah bersama-sama mendoakan semua korban jiwa yang terjadi akibat gempa 10 tahun yang lalu. Semoga Tuhan memberi mereka kemuliaan di sisi-Nya.

Amin.