Parfum Islam Parfum Kristen

Beberapa waktu lalu di sebuah warung nasi padang. Saya mengantri dibelakang seseorang dengan pakaian batik, celana bahan (tidak sempat mengecek cingkrang atau tidak), rambut klimis, serta semerbak parfum yang khas.

Parfum Islam?

Setelah dia pergi, tiba giliran saya dilayani, sang pelayan bertanya. “Mas’e nganggo minyak wangi ya?” (masnya pakai minyak wangi ya?)

“Ora mas,” (tidak mas) saya menjawab. Untuk catatan saja ya, waktu itu saya udah mandi kok, tapi ga pakai parfum.

“Ih berarti mas’e sing mau ya. Mesti anu apa… kae wong sing melu kelompok apa kae lah” (Ih berarti masnya yang tadi ya. Pasti itu dia ikut anu… kelompok apa itu lah)

“Apa sih mas?” Saya berlaga tidak tau kemana arah pembicaraannya.

“Anu mbok kue parfum’e parfum Islam, ambune sing kaya kue.” (Anu kan itu parfumnya parfum Islam, baunya seperti itu)

“Oh…, la nek parfum kristen sih kaya ngapa mas?” (Oh…., kalau parfum kristen sih yang seperti apa mas?) Saya mencoba memancing logika berpikirnya.

“Lah.., rika maning, stroberi ndean.” (Lah.., kamu lagi mas, stroberi kayanya)

Dan si masnya pun tertawa terbahak-bahak dan saya pun membayar nasi padang saya lalu pergi dengan gaya yang sangat awesome.


Tulisan ini berasa dari status di Line beberapa bulan lalu ketika masih di Purwokerto. Ah sungguh saya kangen nasi padang dekat Mafaza ini 🙁