Mengenang Angkutan Pedesaan Khas Klaten

Kol Kuning, Riwayatmu Kini

kol-kuning
http://www.solopos.com/2013/06/25/kenaikan-harga-bbm-ingin-naik-angkudes-di-klaten-ini-dia-tarif-baru-419536

Sekitar tahun 2003-2005, saya yang masih SD kala itu sering menggunakan sebuah moda transportasi umum berupa angkutan pedesaan. Di Klaten, kita lebih terbiasa menyebutnya “Kol Kuning.” Kata kol adalah jawanisasi dari kata Colt yang merupakan salah satu tipe mobil produksi Mitsubishi. Tipe mobil inilah yang digunakan sebagai armada berwarna kuning ini.

Orang jawa memang suka memudahkan penyebutan kata-kata asing yang aneh bagi lidah mereka. Jenis Colt lain ada yang berupa mobil bak terbuka. Kita orang Klaten lebih suka menyebutnya Kol Gundhul. 

Kembali ke kol kuning, saya tak tahu pasti kapan angkutan ini pertama kali beroperasi. Angkutan ini menggunakan kode huruf untuk membedakan jalur satu dengan yang lainnya. Setahu saya, ada A sampai K. Yang pernah saya naiki adalah kol D dan E.

Kol D beroperasi dari daerah Jogoprayan, Karang Turi hingga Bendo Gantungan. Melewati PPN sebelum Pasar Wedi, lalu melalui Gajihan menuju Danguran dan terus hingga Bendo Gantungan.

Sedangkan Kol E setahu saya berangkat dari daerah Teluk, Gantiwarno sampai ke Stasiun Klaten. Jalu yang dilalui adalah Canan, Pasar Wedi, Karang lalu belok ke arah Glodogan dan terus menuju Stasiun. Untuk jalur lain saya tidak tahu karena hanya dua jalur itu yang pernah saya naiki.

Banyak kisah menarik semasa saya sering naik angkutan ini. Diantaranya, sering uang saya dikembalikan oleh Sopir. Entah apa karena saya yang masih SD saat itu, atau jumlah uangnya terlalu kecil. Kala itu saya hanya bayar 300 rupiah saja. Untuk siswa umum saat itu sudah sekitar 500 rupiah, namun orang tua saya menilai karena saya masih kecil harusnya 300 rupiah saja sudah cukup. Ya lumayan sih, bisa buat jajan sore nanti sambil main bola 😀

Lalu karena sekolahan saya dekat Pasar Wedi dan kebetulan Bude dan Bulik saya adalah pedagang, sering saya berpapasan dengan mereka ketika hendakan kulakan di Pasar Wedi. Akhirnya pulangnya saya bisa bareng, selain dibayari angkot kadang malah diajak mampir jajan Mie Ayam. Saya kira ini salah satu alasan munculnya rasa suka yang amat mendalam antara saya dengan Mie Ayam.

Kisah tidak mengenakkannya adalah sebagai siswa SD yang belum sadar betul akan literasi finansial, saya sering tergoda untuk jajan jajanan sekolah yang godaannya naudzubillah. Kadang saya pinjam uang teman, pernah saya jalan kaki pulang ke rumah. Jarak sekolah dengan rumah sekitar 5 KM. Untung hal ini tidak sering terjadi.

Kini Kol Kuning antara ada dan tiada. Di jalur D dan E sudah tidak ada sama sekali kol yang beroperasi. Saya kira memang sudah mati total karena para warga Klaten sudah mampu kredit motor sendiri-sendiri, transportasi pribadi di Klaten secara hitungan ekonomis memang lebih murah dari pada harus mengandalkan angkutan umum yang tidak memadai.

Untuk mengenang angkot, saya mampir ke sebuah grup FB bernama Informasi Seputar Klaten. Intinya saya sharing tentang pengalaman naik kol kuning. Ternyata banyak sekali yang ikut berkomentar, total 86 komentar dan berikut diantaranya yang menarik dan informatif.

Ternyata masih ada Kol Kuning yang beroperasi meski sangat jarang

capture

Ada warga lereng merapi yang nostalgia pagi-pagi dingin, naik angkot yang penuh sesak jadi anget

capture

Yang pengalaman ketinggaan angkutan juga ada

capture

Kalau yang begini jangan ditiru 😀

capture

Lha kok enak jadi Sopir

capture

Bahkan sampai ada yang bercita-cita jadi sopir kol kuning

capture

Itulah beberapa kisah menarik yang bisa saya himpun dari grup tempat saya pertama kali sharing tentang keadaan kol kuning saat ini. Untuk Klaten, terutama daerah pedesaan yang masih belum terlalu padat seperti di Kota besar, penggunaan kendaraan pribadi memang lebih menguntungkan secara ekonomis dan kecepatan. Saya dulu sering menunggu dari 5-45 menit untuk mendapatkan angkutan. Sekarang mungkin tak ada yang mau kecuali benar-benar tak ada kendaraan pribadi atau saudara yang bisa dimintai tolong.

Akan tetapi seiring perkembangan daerah, angkutan umum tetap harus diperhatikan. Jika dibiarkan sama sekali, nantinya malah akan kesulitan ketika keadaan di lapangan sudah terlalu pada seperti di kota-kota besar. Bisa mengambil contoh di Jepang, sebuah kereta yang tetap beroperasi di salah satu jalur yang penumpang sehari-harinya hanya satu orang saja, seorang gadis yang hendak bersekolah.

Menyiapkan sarana untuk masa depan sangatlah penting, bagaimanapun kita tidak bisa bertahan terus menerus hanya menggunakan angkutan pribadi.