Memaksimalkan Diri dengan Cinta dan Kekecewaan

Tulisan ini saya buat atas inspirasi dari Kyai Muzammil, Kyai cerdas asal Madura yang kini membangun perpustakaan di daerah selatan Yogyakarta. Penjelasan beliau tentang resep anti-kantuk tanpa kopi saya coba aplikasikan secara lebih luas pada kehidupan manusia.

Jika ada satu alasan yang membuat seoarng penakut menjadi pemberani, pemarah menjadi pemaaf, si keras hati menjadi orang yang lemah lembut, alasan itu adalah cinta. Begitulah orang-orang terdahulu, orang-orang hebat, menjalani kehidupannya dengan sangat hebat dengan bekal cinta yang teramat besar.

Menengok sejarah Islam klasik, tentu sudah tidak asing kita mendengar cerita tentang Umar yang memiliki watak keras menjadi orang yang mudah menangis ketika dekat dengan Nabi Muhammad. Billal yang hanya seorang budak berani melawan majikannya sendiri yang semena-mena setelah terpesona dengan cinta Muhammad. Pada masa itu kecintaan orang-orang kepada Muhammad dan Tuhannya membuat semua orang menjadi pemberani, kuat, dan tak gentar melawan semua yang menentang sang nabi.

Muhammad bukan hanya sebagai Muhammad bin Abdullah, yang mereka lihat benar-benar Nur Muhammad yang telah diejawantahkan oleh Tuhan dalam bentuk Manusia ke Bumi. Cahaya Muhammad itulah yang saya rasa memantik kekuatan maksimal dalam diri manusia yang mau menerima pancarannya.

Generasi setelahnya masih cukup baik menjaga cinta transedental tersebut, terutama mereka para pegiat sufi. Siapa tak kenal Ibnu Sinna, Ibnu Rushdy, Al-Kindy, Al-Farabi dan masih banyak lagi daftar ilmuan era keemasan Islam. Mereka semua ahli dalam bidangnya masing.  Kecintaan mereka kepada Tuhannya tak menghalangi pencapaian mereka dalam urusan duniawi. Sebenarnya agak tidak pas membagi persoalan keduniawian dan ketuhanan untuk apa yang telah mereka lakukan, karena sejauh pemahaman saya, apapun yang mereka lakukan semuanya memiliki pangkal yang sama yaitu cinta kepada Yang Maha Mengetahui.

Bagi para ilmuwan tersebut, cinta mereka kepada Tuhannya bukan semata-mata cinta yang buta. Mereka mencintai dengan segenap pengetahuan keagamaan yang sangat luas, ditunjang dengan kehebatan berfikir secara filosofis. Mereka inilah manusia-manusia par-excellence, mereka memiliki pengetahuan yang banyak tentang banyak hal. Ini adalah tingkatan pengetahuan yang tertinggi yang dikemukakan oleh Al-Ghazali.

Ilmuan masa kini, terutama ilmuan muslim, tidak ada satupun yang memahami secara mendalam ilmu astronomi, kesehatan, filsafat, dan agama secara sekaligus. Kita hanya tahu ilmuan yang ahli, atau secar legal akademis disebut sebagai professor dalam satu bidang tertentu itupun bidang yang sangat sempit. Setidaknya menurut Al-Ghazali pengetahuan seperti ini hanya setingkat dibawah yang pertama. Ilmuan-ilmuan modern cenderung menjadi manusia yang mengerti banyak tentang sedikit hal.

Tentu yang membedakan mereka, ilmuwan klasik dan modern, tidak sekadar keluasan ilmu namun cinta yang mendasari apa yang mereka perbuat. Kecintaan ilmuwan islam klasik terhadap Tuhan, Rasul, dan Agamanya menjadi dasar yang memperkenalkan mereka kepada dunia ilmu yang lain. Sedang ilmuwan sekarang, dari kacamata kuda saya ini sepertinya melihat ilmu sebagai kecintaan duniawi saja, keinginan memperoleh pekerjaan, diakui di dunia akademis, memperoleh jabatan tinggi. Sangat sedikit energi yang mereka keluarkan dengan niat atas dasar cinta mereka kepada Sang Maha Mencintai. Ini memang hal yang sangat sulit, mencintai sesuatu yang tidak tampak.

Saya pun kembali ke yang dikisahkan oleh Kyai Muzammil bahwa cinta terhadap manusia, bisa mengantarkan ke gerbang cinta kepada Tuhan. Beliau menceritakan bagaimana seorang laki-laki yang amat mencintai seorang perempuan. Dia rela bangun amat pagi hanya untuk dapat mengingatkan sang pujaan hati untuk solat tahajud. Mungkin banyak orang menilai, niat sang laki-laki itu sudah salah. Niatnya bangun pagi bukan untuk salat tahajudnya tapi lebih untuk membangunkan perempuan yang bahkan belum menjadi istrinya.

Bagi Kyai Muzammil, hal seperti itu tidak bisa dilihat sepenuhnya negatif. Malah baginya ini adalah yang disebut dengan membohongi setan. Bisa jadi, ingin dipandang religius di hadapan orang yang dikasihi adalah bisikan setan kepada kita untuk riya’ kepada sesama manusia, namun bisikan setan itulah yang mungkin berkontribusi terhadap bangun pagi si laki-laki tersebut  Oleh sebab itu juga dirinya bisa salat tahajud, meluruskan niat kepada Sang Pemberi Petunjuk, tentu sambil di sambi smsan dengan sang calon istri.

Energi cinta inilah yang juga saya rasakan menjadi pemantik berbagai hal positif dalam diri saya. Menjadi alasan atas pilihan-pilihan yang saya ambil juga tindakan-tindakan yang saya lakukan. Tentu tantangannya adalah menembuskan niat agar tidak berhenti kepada seseorang namun harus bisa terus menghujam langit, ini memang susah. Namun setidaknya energi cinta kepada manusia lain itulah yang telah membangikitkan semangat banyak manusia, termasuk saya.

Sebenarnya setelah cinta, ada kekecewaan yang juga menjadi pemantik manusia memaksimalkan diri. Kisa cinta yang kandas berujung kekecewaan memang menjadi sebab penemuan-penemuan besar. Kyai Muzammil bercerita bahwa Imam Nawawi al-Bantani al-Jawi menjadi seorang ulama besar bahkan mahsyur di tanah arab sana karena pernah suatu ketika lamarannya di tolak oleh seorang perempuan. Kekecewaan itulah yang semakin membuat Nawawi muda meluruskan cintanya tegak kepada Tuhannya.

Mengenai kekecawaan atas cinta ini tidak akan saya bahas lebih panjang lagi karena saya belum pernah mengalami kekecewaan yang teramat mendalam seperti yang di alami oleh Imam Nawawi. Ya kalau boleh sih tidak usah, cukup gelora cinta yang tersampaikan dengan baik yang menjadi pangkal semangat saya.

Sekian.