Kenapa Harga Sembako Selalu Naik Menjelang Ramadhan?

Harga gula hari ini mencapai 15 ribu perkilo, sedangkan harga telur ayam mencapai 25 ribu perkilo. Kedua komoditas daging sapi dan ayam yang sudah naik duluan beberapa minggu sebelumnya. Kita semua tahu bahwa senin depan telah memasuki ramadhan untuk versi hisab, kalau yang versi ruqyah masih menunggu hilal. Tapi poinnya adalah, kenapa harga sembako selalu naik menjelang ramadhan?

http://pontianak.tribunnews.com/2014/11/18/pedagang-pasar-flamboyan-keluhkan-kenaikan-harga-sembako
http://pontianak.tribunnews.com/2014/11/18/pedagang-pasar-flamboyan-keluhkan-kenaikan-harga-sembako

Banyak orang menuding, termasuk mungkin saya, ini adalah permainan para pedagang besar yang mempunyai stok banyak atas komoditas tersebut. Ketika ditanya tentu mereka tidak bilang karena ramadhan jadi harga naik, tapi mereka akan menjawab bahwa terjadi kekurangan stok dari produsen jadi harga naik. Saya tak mudah percaya.

Yang paling jelas adalah kenapa alasan kelangkaan stok itu selalu menjelang lebaran. Jika alasan produksi gula menurun karena faktor alam, kenapa terjadinya harus menjelang ramadhan. Ini yang bagi saya tidak masuk akal.

Sebenarnya ada alasan logis jika memang mau berpikir lebih sedikit. Masyarakat Indonesia itu memang unik, bulan ramadan, bulan dimana kita hanya makan di waktu malam seharusnya tingkat konsumsi kita menjadi berkurang. Namun faktanya konsumsi sebagian besar dari kita malah semakin besar ketika ramadhan.

Hari-hari biasa mungkin sangat jarang kita membuat teh dirumah. Namun ketika puasa, baik ketika buka kemudian sahur teh manis hangat selalu tersedia. Hari-hari biasa makan dengan lauk seadanya tak mengapa, namun ketika puasa kalau makan setelah berbuka tidak dengan lauk yang serba daging kok kurang enak. Belum lagi berbagai makanan dan minuman manis yang mungkin akan hanya kita santap ketika puasa, sebut saja kolak misalnya. Dengan pola konsumsi seperti itu maka wajar jika stok beberapa komoditas di pasar berkurang drastis, lha wong kita makannya juga tambah banyak.

Ini menjadi sebuah kritikan bagi saya pribadi, kenapa di bulan Ramadan, bulan yang katanya waktunya kita mensucikan diri tapi malah dikotori dengan kegiatan-kegiatan konsumtif. Faktanya memang manusia Indonesia seperti saya ini ketika puasa konsumsinya malah luar biasa! Belum lagi dengan seabrek jadwal buka puasa bersama, benar-benar warbiyasah.

Maka salah satu yang ingin saya lakukan di bulan puasa ini adalah semakin mengurangi konsumsi makanan. Jika di hari biasa saja saya makan sederhana dua kali sehari sudah cukup, maka seharusnya saya tak perlu berlebihan. Memang godaan untuk ngamuk makana setelah berbuka itu sangat berat sekali, tapi bukan ujian namanya kalau tanpa cobaan.

Dengan laku sederhana seperti ini, mungkin bila diikuti oleh orang banyak maka tak perlu lagi memusigkan naiknya harga sembako. Malah mungkin para tengkulak enggan menaikan harga, karena bulan puasa orang malah mengurangi konsumsinya bukan malah menambah.

Bersamaan dengan tulisan ini, saya mengcapkan selamat melaksanakan ibadah puasa terlepas nanti kita tanggal puasanya bareng atau tidak itu tak masalah. Yang penting mari tingkatkan kegiatan produktif, karena kegatan produktif itu juga ibadah, dan bulan puasa kita telah sangat dianjurkan untuk beribadah sebanyak-banyaknya.

Harapan saya, saya juga bisa menulis sebanyak-banyaknya.