Hikayat Pekerja Di Atas Awan

Hari ini tepat seratus hari sejak saya pertama kali bekerja di perusahaan ini. Sering ketika saya ditanya kerja di mana, saya cukup bingung mau menjelaskannya. Mari kita coba pelan-pelan membahasnya.

Kita mulai dari media penyimpanan (storage media) dalam komputer, kalau bingung itu sejenis flashdisk dan harddisk. Dengan teknologi internet yang kian canggih dan cepat, kini ada media penyimpanan yang di sebut cloud drive yang secara tekstual bisa diartikan penyimpanan awan.

Nah sudah tau tentang cloud ya…

Lalu sekarang kita masuk ke dunia pekerjaan. Secara klasik orang bekerja disebuah tempat, berkumpul dengan rekan kerja lainya secara tatap muka, tempat itu kita sebut kantor. Seiring dengan semakin canggihnya teknologi komputer dan internet, kini beberapa pekerjaan memungkinkan untuk dilakukan dari rumah ataupun dari mana saja asal ada internet. Pekerjaan ini dapat dilakukan karena semua keperluan yg diperlukan seperti meeting, mengirim hasil pekerjaan, bahkan untuk sekadar ngobrol dengan rekan kerja semuanya bisa dilakukan melalui internet. Karena mirip seperti dalam sistem cloud storage, saya menyebut pekerjaan ini adalah model cloud works atau working on a cloud.

Nah begitulah model pekerjaan yang saya lakukan. Saya bekerja untuk perusahaan konsultan bisnis bernama The KPI Institute, posisi saya adalah sebagai Junior Business Researcher. Untuk lebih detilnya mungkin bisa baca kisah saya di hari-hari pertama kerja. Kali ini saya akan lebih fokus membahas tentang rasanya bekerja di atas awan.

Bekerja di rumah memang terlihat enak, kita bisa santai mengatur ritme kerja secara bebas. Pekerjaan sayaini memang mirip seperti freelancer, tapi untuk kasus saya sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai freelancer karena terikat kontrak sebagai tenaga pembantu tugas research tim utama yang berada di Romania sana.

Pada pekerjaan ini saya dituntut untuk bisa bekerja selama 8 jam perhari untuk 5 hari kerja. Lalu kita juga diharapkan bisa bekerja pada jam 8 hingga jam 5 dengan total istirahat selama 1 jam, jadi ya seperti jam orang kantoran pada umumnya. Namun enaknya kita boleh untuk tidak terpaku pada jam tersebut, kita bisa bekerja di pagi hari lalu mengurusi urusan lain siang harinya dan lanjut menyelesaikab tugas dari sore hingga malam. Gimana enak to?

Tapi tetap saja tim yang berada di Romania sana menganggap kita bekerja pada jam yg sudah saya sebut tadi, waktu Indonesia tentunya. Konsekuensinya kita harus siap jika ada meeting dadakan, ada tugas dadakan pada jam-jam itu tadi. Namun enaknya adalah perbedaan 4 jam antara waktu Indonesia dan Romania membuat hal-hal dadakan itu hanya akan terjadi jam 1 siang ke atas. Selain itu sangat jarang ada meeting dadakan di waktu dimana di Indonesia sudah malam hari. Mereka cukup pengertian dalam hal ini. Jadi yang mau mlipir-mlipir dikit untuk urusan lain bisa dilakukan pada pagi hari hingga sebelum pukul 12 siang.

Fleksibilitas itu nampak mengenakan, namun dibalik itu ada banyak sekali godaan untuk saya menunda pekerjaan. Mulai dari sekadar buka-buka fesbuk laknatullah yang tau-tau setengah jam waktu terbuang sia-sia, lalu pikiran yang suntuk kemudian pengen sedikit main game dan sering malah kebablasan. Ini semua adalah godaan yang sungguh luar biasa bagi para pekerja di atas awan.

 

Intinya dalam pekerjaan seperti ini adalah disiplin diri yang harus kuat, ini yang saya masih merasa belum bisa maksimal. Untungnya saya masih bisa menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, meski bagi saya hasilnya pun masih belum maksimal. Memang sangat susah menjaga disiplin diri ini.

Di pekerjaan lain, seperti freelancer yang dibayar per project yang terselesaikan tentu disiplin diri ini sangat penting. Jika tidak, project yang keteteran dan menunda terselesaikannya pekerjaan yang akhirnya membuat waktu menerima upah juga semakin mundur, dan ini sangat tidak mengenakkan. Nah beruntung saya dibayar berdasarkan jam kerja, jadi meski tetap cukup keteteran asalkan hasil kerja tetap cukup memuaskan maka tidak ada yg namanya pengurangan upah, tapi kalau telat  bayaran itu tetap saja terjadi tapi semata-mata karena manajemen yg agak kurang baik.

Meski tim saya bekerja di rumah masing-masing tapi tidak mengurangi rasa kekeluargaan layaknya para pekerja yang bertemu di kantor sehari-hari. Kami sangat intense dalam menggunakan skype, selain media utama komunikasi dengan tim Romania, skype telah jadi layaknya kantor bagi kami. Di group skype ini kita melakukan berbagai obrolan, mulai dari obrolan tentang pekerjaan hingga obrolan yang menuju ke nggosip, ya gosip ala orang kantoran pada umumnya lah. Pasti sudah pada hafal betul.

Selain itu kita juga selalu menjaga silaturahmi dengan mengadakan pertemuan secara langsung. Beberapa kali kami kumpul bareng, sekadar nongkrong dan makan di kafe. Sayang karena kesibukan masing-masing selain agak susah kumpul dengan semua anggota tim ikut secara komplit.

Secara keseluruhan saya sendiri masih menikmati pekerjaan ini. Meskipun saya memiliki berbagai cita-cita lain yang ingin saya capai namun untuk sementara pekerjaan ini cukup menguntungkan bagi saya untuk mencapai proses yang saya cita-citakan tersebut. Upah yang ditawarkan bagi saya juga cukup lumayan jika dibandingkan dengan pekerjaan lain bagi freshgraduate di kota pelajar ini. Jadi ya mari saya jalani saja terlebih dahulu.

Saya tahu betul di Indonesia semakin banyak orang yang bekerja dengan sistem ini. Dan mungkin masih agak minder seperti saya kalau ditanya tentang pekerjaan. Ya sebenernya bukan minder sih, lebih tepatnya cuma bingung jelasinnya. Karena penjelasannya memang ga cukup hanya dalam satu dua kalimat, perlu sedikit kultum untuk membuat mereka benar-benar tahu pekerjaan seperti apakah yang saya lakukan ini. Walaupun saya masih tak yakin mereka akan benar-benar paham. Beruntung lingkungan saya sangat suportif dengan hal ini.

Terakhir yang perlu saya ingatkan kepada kawan, saudara, bahkan keluarga. Kerja di rumah seperti pekerjaan saya ini tidak membuat saya lantas semerta-merta jadi manusia super selo. Memang kita bisa menunda pekerjaan sebentar untuk melakukan hal lain, tapi sebagai orang yang mendapat tugas tentu yang diharapkan tugas itu bisa selesai dengan tepat dan cepat. Misalnya saya yang dituntut 8 jam kerja, meski bisa membagi jam kerja dari pagi hingga malam saya tetap ingin bisa bekerja sesuai jadwal di sore hari hingga nanti setelah itu bisa benar-benar bebas dari pekerjaan untuk melakukan hal lain. Jadi tidak seharian berada di depan layar terus menerus. Perlu bagi saya untuk memiliki waktu yang benar-benar bebas dari tugas, sayang hal ini kian jarang terjadi. Tak jarang ya masih harus melanjutkan pekerjaan hingga larut malam karena di siang harinya ada hal lain yang dikerjakan. Ya begitulah nasib pekerja di atas awan.