Culture Jamming, Seni Kritik Media

Pernah dengan term culture jamming?

Mungkin masih sangat jarang, itu salah satu alasan saya membuat skripsi tentang culture jamming, tapi ini saya bukan mau bahas tentang skripsi tentunya (sudah capek bro). Lalu apakah pernah atau malah suka membaca artikel di theonion.com, newslo.com, atau posronda.net? Kalau iya, sebenarnya kamu sedang menikmati produk culture jamming.

Kalau kata Oxford, culture jamming adalah the practice of criticizing and subverting advertising and consumerism in the mass media, by methods such as producing advertisements parodying those of global brands. Simpelnya, culture jamming itu kritik terhadap media masa dengan membuat parodi. Ya mungkin terlalu disimplifikasi sih, tapi setidaknya seperti itulah bentuk dasarnya.

Sejarah kemunculan culture jamming ini berawal dari kegiatan billboard banditry, yaitu papan reklame yang bertujuan menyisipkan pesan tertentu. Yang pertama tercatat melakukan adalah kelompok yang kemudian menamai diri Billboard Liberation Front (BLF) di San Francisco di akhir tahun 70’an. Billboard Banditry ini berbeda dengan vandalisme yang sekadar mencoret-coret sebuah reklame. Penggunaan kertas dan lem yang bisa dilepas dengan mudah dari reklame juga hal yang membedakan dengan vandalisme yang biasanya menggunakan cat semprot.

salah satu contoh billboard banditry oleh BLF yang memodifikasi reklame rokok Marlboro, sumber.

Dari contoh kasus yang dilakukan BLF itulah konsep culture jamming awal berkembang. Dari contoh itu juga dapat saya sebutkan bahwa culture jamming itu adalah sebuah konsep dalam mengkritik sebuah branding melalui media yang digunakan oleh brand itu sendiri dengan cara parodi. Meskipun awalnya culture jamming lebih terkenal sebagai sebuah perlawanan anti konsumerisme, namun dengan konsep tersebut saya rasa culture jamming bisa menjadi kritik terhadap segala bentuk branding, mulai dari barang konsumer hingga citra politik seorang politisi. Dari konsep tersebut juga banyak hal-hal baru yang bisa disebut sebagai sebuah bentuk culture jamming, mulai dari acara televisi, koran, hingga sebuah website.

Salah satu acara televisi yang merupakan sebuah bentuk culture jamming adalah The Daily Show dari Comedy Central. Acara yang berbentuk layaknya sebuah program berita televisi ini menampilkan ironi-ironi yang terjadi di dunia politik Amerika Serikat dan Internasional dengan gaya satire. Hal ini menjadikan The Daily Show adalah culture jamming karena melakukan kritik terhadap ironi aktor-aktor politik melalui media televisi dalam bentuk parodi berita dengan gaya satire.

The Daily Show with Trevor Noah, acara komedi yang menampilkan laporan berita politik dengan gaya satire dan ironi, sumber.

Lalu masuk ke media internet, seperti yang sudah saya sebut dari awal tulisan ini di antaranya ada situs seperti Theonion.com, Newslo.com, dan Posronda.net. Ketiganya mempunyai konsep dasar yang sama yaitu parodi situs berita satire. Meskipun secara konsep dasar ketiganya sama, tentu ada keunikan dari masing-masing situs tersebut.

Theonion.com adalah sesepuhnya situs-situs sejenis. Pertama kali muncul sebagai sebuah koran dan kini sepenuhnya menjadi media online bahkan sudah merambah ke media audio video. Keunikannya adalah konten yang disampaikan adalah fake news, artinya hampir sepenuhnya tidak ada fakta di dalamnya. Meskipun palsu, biasanya berita yang dibuat-buat ini menampilkan ironi dari apa yang terjadi di dunia.

Newslo.com memiliki keunikan pada jelasnya pembagian mana isi berita yang fakta mana yang palsu. Dalam setiap artikel terdapat fakta yang bisa ditampilkan sebagai dasar dari satire yang disampaikan. Biasanya headlines yang dipakai adalah sebuah satire, ketika artikel tersebut dibuka ada opsi untuk menunjukkan fakta dari berita tersebut.

Terakhir adalah Posronda.net, kali ini asli dari Indonesia (ingat cintailah ploduk-ploduk Indonesia). Sangat terlihat bahwa situs ini sangat terinspirasi oleh Theonion.com. Posronda.net ini menjadi satu-satunya situs yang secara penuh mendedikasikan diri satire politik di Indonesia. Yang perlu diketahui dari situs satire seperti ini adalah dengan gaya satire dan memang salah satu tujuannya adalah sebuah entertinment, setiap artikel digarap dengan serius bahkan lebih serius dari artikel ­ecek-ecek dengan judul bombastis yang sering kita temui di situs berita mainstream di Indonesia.

Dengan penjelasan singkat ini mungkin konsep culture jamming masih terdengar asing. Bahkan saya yakin kebanyakan dari yang saya sebut di atas, si pembuat tidak menyadari bahwa yang dibuatnya itu adalah sebuah bentuk culture jamming. Namun dari pengalaman saya menonton The Daily Show, membaca Theonion.com dan Posronda.net, yang saya dapati adalah, critics especially in politics could be done in a fun way.