Bermasyarakat dengan Gila

Bermasyarakat dengan Gila

 

Tahukah Anda angka harapan hidup orang Indonesia sekarang mencapai 68 tahun?

Kalau usia mayoritas pengguna media sosial di Indonesia saat ini reratanya adalah 28 tahun, artinya masih ada 40 tahun lagi untuk Anda bisa berbagi berita hoax, debat kusir, stalking mantan -eh-, dan berbagai ritual medsos lainnya.

40 tahun lagi, terasa masih begitu lama ya?

Sebenarnya tidak lama, jika Anda bandingkan dengan usia peradaban manusia yang sudah lebih dari 10.000 tahun. Semakin tidak menjadi apa-apa jika Anda bandingkan dengan usia bumi tempat manusia tinggal ini yang sudah mencapai 4,5 Milyar tahun. Jadi, 40 tahun apalagi hanya untuk ribut dengan orang lain itu adalah waktu yang teramat sangat singkat. 40 tahun adalah waktu yang sangat cukup untuk manusia membawa kehancuran peradaban manusia dan bumi yang ditinggalinya.

Nah, saya punya beberapa ide -yang mungkin akan terdengar gila- tentang bagaimana kita seharusnya menjalani hidup di masyarakat dalam sisa waktu yang tak seberapa ini.

Pertama, bagaimana kalau kita berkomentar di media sosial itu ya mbok yang menentramkan jiwa dan raga, ga usah suka ribut ngurusin tingkah orang lain yang tidak merugikan orang lain?

Jikalau ada yang karena komentar atau tulisannya di sosial media membuat Anda rugi, tinggal buat BAP di polres setempat. Cuma setelah itu ya jangan pakai acara demo di balai desa, apalagi sampai berjilid-jilid. Kok kaya Iqro’ yang tidak pernah Anda khatamkan saja. Atau protes dengan menyalakan ribuan lilin. Thomas Alva Edison menciptakan bohlam lampu itu punya maksud dan tujuan yang jelas lho, bukan cuman buat jadi penghangat kandang anak ayam.

Kedua, bagaimana kalau kita tidak usah suka memaksakan ide dan gagasan pribadi atau kelompok untuk diterima orang lain?

Kalau teman Anda percaya bahwa Arsenal klub terbaik Inggris, sedangkan Anda percaya bahwa Chelsea adalah yang terbaik, apakah Anda mau dipaksa untuk percaya bahwa Arsenal yang terbaik? Tentu tidak. Begitu juga sebaliknya dengan teman Anda. Ini baru perkara bola, belum perkara politik, agama, suku, dan yang lainnya. Pasti akan selalu ada perpecahan kubu dalam berbagai perkara di dunia, tapi tak bisakah kita seperti Soekarno dan Natsir yang sangat berlawanan dalam merumuskan ideologi negara, namun tetap sahabat karib dibalik semua perbedaan itu? Saya bahkan pernah membaca, setelah debat sengit keduanya dalam sidang BPUPKI, keduanya tetap ramah dan saling ngobrol santai antar teman di luar sidang.

Ketiga sekaligus yang terakhir, bagaimana jika di tengah semua perbedaan ini kita menegosiasikan idealisme-idealisme masing-masing untuk agar bisa damai dan rukun?

Saya teringat tetangga saya di kampung, panggil saja Gendul. Ketika lulus SMA dia punya idealisme bahwa seorang perempuan yang layak dijadikan istri itu yang berjilbab, putih, dan berbokong bahenol -Gendul memang pria yang lebih bokongist ketimbang dadaist-. Setelah lulus dari kuliah selama 8 tahun -tanpa pernah diterima pernyataan cintanya-, dia menegosiasikan sendiri idealismenya tentang perempuan yang istriable. Kini kriterianya hanya satu, berjilbab, dengan asumsi bahwa jilbab adalah simbol kesalehan. Malang nasib Gendul, di usia yang sudah kepala tiga tak ada satupun perempuan yang mau ia beri cincin emas di jari manisnya. Akhirnya kini dia menghilangkan berbagai syarat yang dahulu pernah ia idealkan. Kini sederhana saja, asal dia perempuan, dan mau dengannya.

Untuk kepentingan pendamping hidup saja banyak orang menyimpan idealisme asal dapat mencapai kesempurnaan agama. Kenapa kita tidak bisa sedikit mengatur idealisme masing-masing demi mencapai idealisme yang lebih tinggi, masyarakat yang rukun dan damai. Meskipun  banyak orang mengkritisi bahwa itu semua hanya kedamaian dan kerukunan yang semu, bagi saya tak jadi masalah. Asalkan anak saya bisa berangkat ke sekolah tanpa takut ada rudal menghantam angkot yang ia naiki, asalkan adik perempuan saya tidak dihalangi untuk mengenyam pendidikan, asalkan setiap orang mempunya kebebasan untuk berpendapat tanpa takut ditembak mati.

Ah, setelah saya baca lagi, ide saya memang terlalu gila untuk bisa diterapkan. Muspro!